Rianto, Maestro Lengger Dunia yang Berasal dari Kaliori Banyumas
0 menit baca

indonesiakaya.com
Banyumas24jam - Nama Rianto sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Banyumas, Jawa tengah. Maestro lengger yang satu ini merupakan pelestari lengger di Banyumas bahkan dunia. Rianto Dance Studio menjadi wadah kesenian lengger yang dia dirikan di Banyumas
Dikutip dari indonesiakaya.com, Rianto Dance Studio adalah cara Rianto untuk berjejaring di ranah kesenian di dalam negeri. Di Jepang, Rianto dan istrinya, Miray Kawashima, telah memulai hal yang sama dengan mendirikan Dewandaru Dance Company yang hingga kini masih aktif. Sedangkan Rianto Dance Studio, dibuat untuk menemukan potensi talenta muda yang ada di tanah kelahirannya, Banyumas.
Sanggar ini awalnya berada di Kota Solo, lalu dipindahkan ke Banyumas pada 2018. Tidak hanya membicarakan kesenian, sanggar ini secara organik justru mempertemukan potensi-potensi yang ada di desa.
Rianto lahir di hari Senin manis atau Senin Legi, tanggal 7 September 1981 dari keluarga yang sangat sederhana, yaitu Ibu Rusti dan Bapak Slamet Suharjo Almarhum.
Rianto merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Saat dilahirkan, ia memiliki tanda biru di bagian kening. Tanda tersebut perlahan menimbulkan kekhawatiran bagi ibunya, Rusti.
Diliputi rasa cemas akan kemungkinan buruk di kemudian hari, Rusti membawa Rianto yang masih bayi ke sebuah pertunjukan tari lengger di Desa Wlahar, yang digelar oleh Kelompok Tari Banjarwaru, Cilacap, Jawa Tengah, untuk bertemu dengan seniman tari ternama, Ibu Adminah. Di ruang rias, Rusti pun menyampaikan kegelisahannya tentang tanda biru yang melekat di kening Rianto.
Ibu saya kemudian minta untuk didoakan. Dulu kepercayaan Jawa memang masih sangat kuat sekali tentang hal-hal seperti itu, jadi (kening saya) dikasih boreh atau dikasih alas bedaknya si lengger kemudian dicium,” kata Rianto mengulang apa yang pernah diceritakan ibunya. “Nah, setelah dari situ, saya mulai tumbuh menjadi seorang anak yang mungkin pada saat itu dianggap sebagai anak yang berbeda sendiri, karena waktu itu saya suka sekali dengan yang namanya tari,” tambah Rianto.
Hari-hari berlalu. Rianto kecil tumbuh menjadi seorang anak yang gemar mendengar cerita pewayangan radio di rumah tetangga. Telah menjadi kebiasaan Rianto untuk menari dan berjoget sendiri ketika mendengar musik tradisional di radio sesaat sebelum berangkat sekolah. Karena kecintaannya dengan tarian, tak jarang cibiran dari orang-orang sekitar datang memenuhi telinga Rianto setiap harinya.
Perundungan yang datang silih berganti, tak membuat keteguhan hati Rianto goyah sedikit pun. Mencintai seni tari ditanamkan terus oleh Rianto hingga jenjang pendidikan. Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Rianto melanjutkan kecintaannya di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan jurusan seni tari.
Bakat ini kemudian diasah lebih tajam hingga jenjang perkuliahan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta pada tahun 2000. Salah satu yang menjadi gairah Rianto adalah tari lengger lanang. Dari masa kecil hingga dewasa, menari lengger bagi Rianto merupakan darma—sebuah pengabdian sekaligus tugas hidup.
“Jadi dalam kehidupan saya, menjadi lengger itu adalah darma saya untuk berbuat kebaikan lewat kesenian, lewat kebudayaan tubuh, daya pikir, daya imajinasi, daya rasa yang saya lakukan setiap hari untuk kehidupan saya,” kata Rianto.
Tari lengger sendiri berasal dari kata leng yang berarti lubang dan jengger yang berarti mahkota ayam jago. Di Banyumas, umumnya lengger dimainkan oleh laki-laki yang sengaja berperan sebagai perempuan. Konsep ini umumnya dikenal dengan istilah darani leng jebule jengger atau diartikan “dikira perempuan ternyata laki-laki”.
Seiring berjalannya waktu, kesenian tari lengger tak selalu diterima dengan baik. Berbagai stigma pun muncul di masyarakat, yang kerap memandang tarian ini sebagai sesuatu yang kontroversial, mulai dari isu transgender hingga erotisme.
“Persepsi tentang lengger itu udah dari dulu sebenarnya distigmakan secara negatif, ya. Tidak cuma (tentang) pelakunya laki-laki ataupun perempuan sebenarnya,” katanya.
Apa yang kerap dipandang sebelah mata dalam tari lengger justru dibuktikan sebaliknya oleh Rianto dengan kesungguhan. Melalui penelitiannya, Rianto menyadari bahwa tari lengger bukan sekadar pertunjukan semata, apalagi soal erotisme sebagaimana kerap dipersepsikan banyak orang.
Bagi Rianto, lengger adalah ajaran hidup. Tari lengger menuntunnya untuk mengenal makna dari simbol-simbol kehidupan di dalamnya. Rianto lebih suka menyebutnya dengan istilah ajining diri (ngaji diri) atau seperti membuka ruang komunikasi antara hubungan manusia, alam sekitar, semesta, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Tari lengger sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Sudah sejak lama, seni Banyumasan ini tersebar di masyarakat hingga beberapa wilayah di sekitarnya, seperti Purbalingga, Purwokerto, Banjarnegara, Wonosobo, Cilacap, Ajibarang, dan Bumiayu, seiring dengan kehidupan masyarakat zaman itu yang kerap berpindah-pindah.
Warisan yang diturunkan oleh para leluhur inilah yang diyakini Rianto sebagai sebuah kebaikan yang patut dijaga dan diteruskan. “Nenek moyang kita tidak pernah akan mengajarkan kita untuk sesuatu yang jelek ataupun kejahatan, pasti akan mengajarkan kita sebuah kebaikan welas asih. Mana ada kesenian lengger untuk kejahatan? Tidak ada,” tegas Rianto.
Sumber: indonesiakaya.com
Dikutip dari indonesiakaya.com, Rianto Dance Studio adalah cara Rianto untuk berjejaring di ranah kesenian di dalam negeri. Di Jepang, Rianto dan istrinya, Miray Kawashima, telah memulai hal yang sama dengan mendirikan Dewandaru Dance Company yang hingga kini masih aktif. Sedangkan Rianto Dance Studio, dibuat untuk menemukan potensi talenta muda yang ada di tanah kelahirannya, Banyumas.
Sanggar ini awalnya berada di Kota Solo, lalu dipindahkan ke Banyumas pada 2018. Tidak hanya membicarakan kesenian, sanggar ini secara organik justru mempertemukan potensi-potensi yang ada di desa.
Rianto lahir di hari Senin manis atau Senin Legi, tanggal 7 September 1981 dari keluarga yang sangat sederhana, yaitu Ibu Rusti dan Bapak Slamet Suharjo Almarhum.
Rianto merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Saat dilahirkan, ia memiliki tanda biru di bagian kening. Tanda tersebut perlahan menimbulkan kekhawatiran bagi ibunya, Rusti.
Diliputi rasa cemas akan kemungkinan buruk di kemudian hari, Rusti membawa Rianto yang masih bayi ke sebuah pertunjukan tari lengger di Desa Wlahar, yang digelar oleh Kelompok Tari Banjarwaru, Cilacap, Jawa Tengah, untuk bertemu dengan seniman tari ternama, Ibu Adminah. Di ruang rias, Rusti pun menyampaikan kegelisahannya tentang tanda biru yang melekat di kening Rianto.
Ibu saya kemudian minta untuk didoakan. Dulu kepercayaan Jawa memang masih sangat kuat sekali tentang hal-hal seperti itu, jadi (kening saya) dikasih boreh atau dikasih alas bedaknya si lengger kemudian dicium,” kata Rianto mengulang apa yang pernah diceritakan ibunya. “Nah, setelah dari situ, saya mulai tumbuh menjadi seorang anak yang mungkin pada saat itu dianggap sebagai anak yang berbeda sendiri, karena waktu itu saya suka sekali dengan yang namanya tari,” tambah Rianto.
Hari-hari berlalu. Rianto kecil tumbuh menjadi seorang anak yang gemar mendengar cerita pewayangan radio di rumah tetangga. Telah menjadi kebiasaan Rianto untuk menari dan berjoget sendiri ketika mendengar musik tradisional di radio sesaat sebelum berangkat sekolah. Karena kecintaannya dengan tarian, tak jarang cibiran dari orang-orang sekitar datang memenuhi telinga Rianto setiap harinya.
Perundungan yang datang silih berganti, tak membuat keteguhan hati Rianto goyah sedikit pun. Mencintai seni tari ditanamkan terus oleh Rianto hingga jenjang pendidikan. Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Rianto melanjutkan kecintaannya di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan jurusan seni tari.
Bakat ini kemudian diasah lebih tajam hingga jenjang perkuliahan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta pada tahun 2000. Salah satu yang menjadi gairah Rianto adalah tari lengger lanang. Dari masa kecil hingga dewasa, menari lengger bagi Rianto merupakan darma—sebuah pengabdian sekaligus tugas hidup.
“Jadi dalam kehidupan saya, menjadi lengger itu adalah darma saya untuk berbuat kebaikan lewat kesenian, lewat kebudayaan tubuh, daya pikir, daya imajinasi, daya rasa yang saya lakukan setiap hari untuk kehidupan saya,” kata Rianto.
Tari lengger sendiri berasal dari kata leng yang berarti lubang dan jengger yang berarti mahkota ayam jago. Di Banyumas, umumnya lengger dimainkan oleh laki-laki yang sengaja berperan sebagai perempuan. Konsep ini umumnya dikenal dengan istilah darani leng jebule jengger atau diartikan “dikira perempuan ternyata laki-laki”.
Seiring berjalannya waktu, kesenian tari lengger tak selalu diterima dengan baik. Berbagai stigma pun muncul di masyarakat, yang kerap memandang tarian ini sebagai sesuatu yang kontroversial, mulai dari isu transgender hingga erotisme.
“Persepsi tentang lengger itu udah dari dulu sebenarnya distigmakan secara negatif, ya. Tidak cuma (tentang) pelakunya laki-laki ataupun perempuan sebenarnya,” katanya.
Apa yang kerap dipandang sebelah mata dalam tari lengger justru dibuktikan sebaliknya oleh Rianto dengan kesungguhan. Melalui penelitiannya, Rianto menyadari bahwa tari lengger bukan sekadar pertunjukan semata, apalagi soal erotisme sebagaimana kerap dipersepsikan banyak orang.
Bagi Rianto, lengger adalah ajaran hidup. Tari lengger menuntunnya untuk mengenal makna dari simbol-simbol kehidupan di dalamnya. Rianto lebih suka menyebutnya dengan istilah ajining diri (ngaji diri) atau seperti membuka ruang komunikasi antara hubungan manusia, alam sekitar, semesta, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Tari lengger sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Sudah sejak lama, seni Banyumasan ini tersebar di masyarakat hingga beberapa wilayah di sekitarnya, seperti Purbalingga, Purwokerto, Banjarnegara, Wonosobo, Cilacap, Ajibarang, dan Bumiayu, seiring dengan kehidupan masyarakat zaman itu yang kerap berpindah-pindah.
Warisan yang diturunkan oleh para leluhur inilah yang diyakini Rianto sebagai sebuah kebaikan yang patut dijaga dan diteruskan. “Nenek moyang kita tidak pernah akan mengajarkan kita untuk sesuatu yang jelek ataupun kejahatan, pasti akan mengajarkan kita sebuah kebaikan welas asih. Mana ada kesenian lengger untuk kejahatan? Tidak ada,” tegas Rianto.
Sumber: indonesiakaya.com