Lengger Bicara Banyumas 2026, Merayakan Budaya dalam Semangat Gemah Ripah Loh Jinawi.
0 menit baca

Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkaluaskan gambar dari situs ini, dengan catatan mencantumkan sumbernya (banyumas24jam.com)
Banyumas24jam - Kabar menggembirakan bagi para pecinta seni dan budaya. Lengger Bicara Banyumas 2026 kembali hadir sebagai salah satu agenda budaya yang dinantikan masyarakat. Acara yang ke 3 kalinya ini yang sebelumnya pada tahun 2024 dan 2025.
Mengusung tema "Merayakan Budaya dalam Semangat Gemah Ripah Loh Jinawi", kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya Banyumas sekaligus mengenalkan kekayaan tradisi kepada generasi muda.
Lengger Bicara bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi wadah diskusi, apresiasi, dan pelestarian budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tema Gemah Ripah Loh Jinawi menggambarkan harapan akan kehidupan masyarakat yang makmur, subur, damai, dan penuh kesejahteraan. Filosofi tersebut sangat erat dengan karakter masyarakat Banyumas yang menjunjung tinggi nilai gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan terhadap tradisi.
Melalui Lengger Bicara Banyumas 2026, nilai-nilai tersebut dihidupkan kembali dalam berbagai kegiatan seni dan budaya yang melibatkan seniman, budayawan, komunitas, hingga masyarakat umum.
Seni tari Lengger Banyumasan merupakan salah satu ikon budaya yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banyumas. Gerakan tari yang khas, iringan musik calung dan gamelan Banyumasan, serta nuansa kerakyatan menjadikan Lengger memiliki daya tarik tersendiri.
Di tengah perkembangan zaman, keberadaan Lengger terus dijaga melalui berbagai festival, pertunjukan, dan kegiatan edukasi budaya seperti Lengger Bicara Banyumas.
Acara ini menjadi bukti bahwa budaya tradisional tetap relevan dan mampu menarik perhatian generasi muda apabila dikemas secara kreatif dan edukatif.
Acara Lengger Bicara 2026 berlangsung selama 1 hari pada Jum'at, 26 Juni 2026. Acara dimulai dengan lenggeran bareng dengan kurang lebih 5 ribu penari. Kemudian dilanjutkan dengan acara inti lengger bicara 2026 dengan menampilkan beberapa pagelaran.
Dalam pergelaran tersebut, ditampilkan tari “Sastra Jiwangga” karya maestro lengger Rianto yang dibawakan langsung olehnya. Selain itu, pertunjukan utama “Senandung Tanah Makmur” menghadirkan kolaborasi tari dengan iringan orkestra Jawa yang memukau penonton.
Acara ini juga diramaikan dengan penyerahan penghargaan kepada grup lawak legendaris Banyumas, Peang Penjol. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyerahkan penghargaan kepada Suliyah, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat memberikan penghargaan kepada keluarga almarhum Rusmadi (Peang), dan Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyerahkan penghargaan kepada keluarga almarhum Sadikun (Penjol).
Kembalinya Lengger Bicara Banyumas 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk semakin mencintai budaya lokal. Di tengah arus modernisasi, pelestarian seni tradisional seperti Lengger merupakan langkah nyata menjaga jati diri Banyumas.
Dengan kolaborasi antara seniman, pemerintah, komunitas, dan masyarakat, Lengger Bicara Banyumas diharapkan terus menjadi inspirasi dalam merawat budaya sekaligus mendorong kemajuan pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Mengusung tema "Merayakan Budaya dalam Semangat Gemah Ripah Loh Jinawi", kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya Banyumas sekaligus mengenalkan kekayaan tradisi kepada generasi muda.
Lengger Bicara bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi wadah diskusi, apresiasi, dan pelestarian budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tema Gemah Ripah Loh Jinawi menggambarkan harapan akan kehidupan masyarakat yang makmur, subur, damai, dan penuh kesejahteraan. Filosofi tersebut sangat erat dengan karakter masyarakat Banyumas yang menjunjung tinggi nilai gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan terhadap tradisi.
Melalui Lengger Bicara Banyumas 2026, nilai-nilai tersebut dihidupkan kembali dalam berbagai kegiatan seni dan budaya yang melibatkan seniman, budayawan, komunitas, hingga masyarakat umum.
Seni tari Lengger Banyumasan merupakan salah satu ikon budaya yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banyumas. Gerakan tari yang khas, iringan musik calung dan gamelan Banyumasan, serta nuansa kerakyatan menjadikan Lengger memiliki daya tarik tersendiri.
Di tengah perkembangan zaman, keberadaan Lengger terus dijaga melalui berbagai festival, pertunjukan, dan kegiatan edukasi budaya seperti Lengger Bicara Banyumas.
Acara ini menjadi bukti bahwa budaya tradisional tetap relevan dan mampu menarik perhatian generasi muda apabila dikemas secara kreatif dan edukatif.
Acara Lengger Bicara 2026 berlangsung selama 1 hari pada Jum'at, 26 Juni 2026. Acara dimulai dengan lenggeran bareng dengan kurang lebih 5 ribu penari. Kemudian dilanjutkan dengan acara inti lengger bicara 2026 dengan menampilkan beberapa pagelaran.
Dalam pergelaran tersebut, ditampilkan tari “Sastra Jiwangga” karya maestro lengger Rianto yang dibawakan langsung olehnya. Selain itu, pertunjukan utama “Senandung Tanah Makmur” menghadirkan kolaborasi tari dengan iringan orkestra Jawa yang memukau penonton.
Acara ini juga diramaikan dengan penyerahan penghargaan kepada grup lawak legendaris Banyumas, Peang Penjol. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyerahkan penghargaan kepada Suliyah, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat memberikan penghargaan kepada keluarga almarhum Rusmadi (Peang), dan Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyerahkan penghargaan kepada keluarga almarhum Sadikun (Penjol).
Kembalinya Lengger Bicara Banyumas 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk semakin mencintai budaya lokal. Di tengah arus modernisasi, pelestarian seni tradisional seperti Lengger merupakan langkah nyata menjaga jati diri Banyumas.
Dengan kolaborasi antara seniman, pemerintah, komunitas, dan masyarakat, Lengger Bicara Banyumas diharapkan terus menjadi inspirasi dalam merawat budaya sekaligus mendorong kemajuan pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.