Notification

×

Iklan

Iklan

Wiji Thukul, Aktivis Partai Rakyat Demokratik yang Hilang Jaman Orde Baru

Jumat, 09 Februari 2024 | Februari 09, 2024 WIB Last Updated 2024-02-09T06:58:54Z
Banyumas24jam - setiap menjelang pemilu, isu pelanggaran HAM masa lalu selalu muncul. Pelanggaran HAM di tahun 1997-1998 yang tercatat menghilangkan 13 orang aktivis masa itu.

Salah satu aktivis yang hilang di masa itu adalah wiji thukul, salah satu anggota PRD atau Partai Rakyat Demokratik. Pada dekate awal 90an, wiji thukul banyak menulis puisi. Puisi-puisi tersebut berisi kritikan terhadap pemerintahan orde baru, yang dipimpin oleh Presiden Suharto.

Puisi-puisi yang bertema tentang tanah, gerakan petani, buruh dan selalu dibacakan dalam demonstrasi-demonstrasi yang dia ikuti. Sehingga pemerintah saat itu merasa terancam dengan kritikan dari Wiji Thukul.

Selama masa hidupnya ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Jagalan, tempat ia dan anak istrinya tinggal. Pada 1994, terjadi aksi petani di Bringin, Ngawi. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer.

Pada tahun 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo. Tahun-tahun berikutnya Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKER) sebagai ketua. Kemudian pada tahun 1995 mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex.

Peristiwa 27 Juli dan Kerusuhan Mei 1998 telah menyeret beberapa nama aktivis kedalam daftar pencarian aparat Kopassus Mawar. Di antara para aktivis itu adalah aktivis dari Partai Rakyat Demokratik, Partai Demokrasi Indonesia, Partai Persatuan Pembangunan, JAKKER, pengusaha, mahasiswa, dan pelajar yang menghilang terhitung sejak bulan April hingga Mei 1998.

Semenjak bulan Juli 1996, Thukul sudah berpindah-pindah keluar masuk daerah dari kota satu ke kota yang lain untuk bersembunyi dari kejaran aparat. Dalam pelariannya itu Thukul tetap menulis puisi-puisi pro-demokrasi yang salah satu di antaranya berjudul Para Jendral Marah-Marah.

Kontak terakhir antara Thukul dan istrinya, Sipon terjadi pada Februari 1998, sejak saat itu Thukul menghilang. Setelah kondisi membaik pada tahun 2000, Sipon melaporkan hilangnya Thukul pada Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), namun Thukul belum ditemukan hingga kini. Istri Thukul, Sipon kemudian meninggal dunia pada 2023

Pada 1991, Thukul memperoleh Wertheim Encourage Award yang diberikan Wertheim Stichting, Belanda, bersama WS Rendra. Setelah ia dinyatakan menghilang, pada 2002, ia dianugerahi penghargaan Yap Thiam Hien Award. Pada tahun 2018, sebuah film dokumenter tentang kehidupan putra Thukul, Fajar Merah, yang berjudul Nyanyian Akar Rumput dibuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

close